Catatan Impian

“Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars.” (Setiap impian besar berawal dari seorang pemimpi. Ingatlah, Anda memiliki kekuatan, kesabaran dan hasrat untuk meraih bintang-bintang) – Harriet Tubman.

Pertengahan Juni 2012.

Dua hari menjelang keberangkatan studi ke Amerika Serikat, di tengah kesibukan mengurus beragam dokumen dan mengemas barang, saya menemukan beberapa lembar kertas kusam diantara tumpukan arsip dokumen.

Warna kertas yang saya temukan sudah mulai menguning. Sebagian terkoyak. Beberapa sudutnya telah robek dimakan usia. Di bagian atas salah satu kertas kusam itu tertulis jelas: “Psikosibernetik Untuk Sukses 1996: Rancangan Hidup Masa Depan.”

Lembaran kertas-kertas kusam itu ternyata adalah catatan-catatan pribadi yang saya tulis pada tahun 1996, dua tahun sebelum saya lulus kuliah S-1.

Ya, sejak kuliah di UGM, pertengahan tahun 90-an, saya memang terbiasa membuat apa yang saya sebut β€œcatatan impian.”

Isinya: impian-impian yang ingin saya gapai.

Metode menuliskan impian ini saya dapat dari buku Psycho-Cybernetics (1960) karya Maxwell Maltz, seorang dokter bedah dan pakar personal development yang menggabungkan metode cognitive psychology dan cybernetics untuk pencapaian tujuan. Salah satu poin penting dalam buku klasik ini adalah visualization, atau penggambaran apa yang ingin kita capai, sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan.

Caranya sederhana: tulis dan gambarkanlah impianmu.

Saat itu saya biasa menggunakan sesobek kertas dari buku tulis, menyiapkan pena dan segera duduk menulis. Langkah selanjutnya adalah menuliskan apapun impian yang saya ingin capai: memiliki laptop sendiri, rajin menulis di media, target nilai IPK, masa studi yang cepat, mendapat beasiswa studi ke luar negeri, pekerjaan setelah lulus kuliah, bahkan impian menikah dengan seseorang yang saya sukai (yang sekarang menjadi istri saya).

Setelah itu saya mencari gambar-gambar yang bisa mewakili impian saya secara visual: gambar laptop bagus yang saya suka, gambar orang bertoga, gambar kampus salah satu universitas di luar negeri, gambar Ka’bah, gambar mobil yang saya suka, gambar rumah dengan halaman luas yang saya idam-idamkan, dan gambar sampul buku-buku yang saya ingin beli. Biasanya saya menemukan gambar-gambar ini dari majalah-majalah bekas yang saat itu saya beli di kawasan Shopping Center, Yogya.

Gambar-gambar impian itu kemudian saya tempel di dinding, di depan meja belajar dan di depan cermin agar mudah terlihat.

Setelah itu saya lupakan.

Ya, saya lupakan. Saya biarkan visual goals itu tertempel di dinding dan cermin, sementara saya jalani aktivitas sehari-hari sehari seperti biasa.

Namun saya percaya, ketika melakukan aktivitas apapun, catatan impian itu senantiasa “menemani” alam bawah sadar saya. Ia menuntun dan membimbing apapun yang saya lakukan menuju impian yang telah saya tuliskan.

Lamat-lamat saya baca kembali catatan-catatan impian yang saya temukan. Ingatan saya seolah terlempar beberapa tahun ke belakang. Sesekali saya tersenyum membaca mimpi-mimpi yang pernah saya buat. Kadang ada yang lucu. Kadang ada yang konyol.

Dalam salah satu lembar catatan bertahun 1996 itu, mata saya tertumbuk. Saya baru sadar, di dalam salah satu catatan bertahun 1996 itu ternyata saya pernah menuliskan impian ini: melanjutkan studi ke Amerika Serikat.

Di dalam catatan impian itu tertulis: “S-2 Australia: 27 Tahun” dan “S-3 Amerika: 30 Tahun.”

Catatan Impian

Saya lupa.

Saya tidak menyangka jika diantara catatan-catatan impian yang dulu saya tulis, saya pernah “bermimpi” untuk belajar ke Amerika Serikat.

Enam belas tahun: 1996-2012.

Waktu yang panjang.

Jalan yang tidak mudah.

Dan catatan impian kusam bertahun 1996 itu adalah bukti kekuatan sebuah impian.

Benar, mimpi yang kita miliki memang tidak selalu akan terwujud. Kadang tertunda, atau bahkan terkadang tidak tercapai sama sekali. Saya pun mengalaminya. Mimpi untuk belajar ke Amerika Serikat ternyata harus saya simpan hingga 16 tahun lamanya. Studi S-3 ke Amerika Serikat baru tercapai ketika saya berumur 38 tahun.

Mimpi untuk melanjutkan studi ke Australia, seperti yang tertulis dalam catatan impian saya, malah tidak pernah saya rasakan di dunia nyata. Sampai sekarang, saya belum pernah menginjakkan kaki di benua Kanguru itu.

Tetapi di balik semua itu, saya percaya, selalu ada hikmah dari kesabaran dan kekuatan menjaga impian. Karena impian yang kuat untuk belajar ke luar negeri, sejak masih kuliah S-1 saya beruntung pernah mendapatkan 4 beasiswa studi ke luar negeri.

Pada medio 1999-2000, ketika masih menjadi mahasiswa S-1, saya beruntung mendapatkan beasiswa dari Nagoya University Program for Academic Exchange (NUPACE) untuk belajar di Nagoya University, Jepang selama setahun.

Tahun 2006, saya kembali beruntung mendapatkan beasiswa Teacher Training Program dari Monbukagakusho, departemen pendidikan pemerintah Jepang, untuk belajar di Kyoto University of Education, Jepang selama satu setengah tahun.

Pada awal tahun 2012, saya mendapatkan beasiswa dari DIKTI-LN untuk melanjutkan studi doktoral (S-3) di Newcastle University, Inggris. Pada tahun yang sama, saya juga mendapatkan beasiswa dari Fulbright Presidential untuk melanjutkan studi S-3 di Department of Sociology, University of Missouri, Amerika Serikat. Saya memutuskan mundur dari beasiswa DIKTI-LN karena akhirnya menerima beasiswa dari Fulbright untuk melanjutkan studi S-3 ke Amerika Serikat.

Sampai sekarang, kebiasaan membuat catatan impian masih tetap saya lakukan. Hanya medianya saja yang berubah: dulu di atas kertas, sekarang di komputer tablet. Setiap akhir tahun, saya selalu memperbaharui impian yang ingin saya capai.

Saya meyakini, seperti kutipan Harriet Tubman diatas, dengan kekuatan, kesabaran dan hasrat yang besar, niscaya mimpi setinggi dan sebesar apapun sebenarnya bisa kita capai.

Jadi, beranilah bermimpi.

Setinggi mungkin. Sebesar mungkin.

Jangan takut jatuh. Jangan takut gagal. Karena kegagalan sebenarnya hanyalah ilusi.

Seperti kata Oprah Winfrey:

“I don’t believe in failure. It is not failure if you enjoyed the process” (Saya tidak percaya kegagalan. Tidak ada kegagalan kalau kita menikmati prosesnya).

Photo credit: dokumen pribadi.

← Previous post

Next post →

34 Comments

  1. Zulaiha

    Saya pernah mempraktekkan ilmu “Mimpi” ini dari Pak Medhy. Setelah lulus S1 saya menulis “S2 di ugm” dan dijadikan profile di hp butut saya. hanya sekedar menulis saja, karena saya dulu cukup “tahu diri”, rasanya kuliah di ugm itu tidak mungkin. Tapi rupanya Allah mentakdirkan saya sesuai dengan isi profile tsb. berharap semoga ilmu “mimpi” ini bisa membawa saya ke S3 di luar negeri . Terima kasih ilmunya Pak medhy

    • mm

      Medhy Hidayat

      Alhamdulillah jika impiannya tercapai, Zulaiha. Ikut seneng. πŸ™‚

      Sampai sekarang pun “ilmu mimpi” sederhana ini masih saya pakai. Di layar komputer dan laptop selalu ada screen background impian saya 5 tahun ke depan. Juga di dinding kamar mandi. πŸ™‚

  2. awwwwwwwwwww, saya juga melakukannya , tapi kadang malu dilihat orang wong mimpinya setinggi langgit, hehe yaudah tak sobek2 :v

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Hehehe. Ndak usah dikasih lihat ke orang lain, Mas. Disimpen buat pribadi saja kalo gitu. πŸ™‚

  3. Pak Medhy, Pakabar?

    Membaca tulisan ini saya juga merasa terhanyut tentang kemiripan kisah saya dengan beberapa nak-kanak Plat-M. (Saya, Wahyu, Slametux, Ria Lyzara, Dendy, Raden). 2014 kami semua membuat passport meski belum ada tujuan pasti. Waktu itu, niat kami semua kapanpun pokoknya bisa ke luar negeri.

    2015, seperti datang sebuah keajaiban.

    3 diantara kami sudah mewujudkan impian ke luar negeri itu di tahun 2015. Ruarr biasa….

    Saya beruntung menjadi 1 diantara 4 perwakilan blogger Indonesia yang diundang ke acara kopdar akbar di Malaysia (Sepetang Bersama Blogger 2015)

    Wahyu, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Taiwan

    Ria Lyzara, Luar biasa menjadi top contributors dan diundang datang ke markas google di Amerika juga.

    Menurut saya pribadi, mimpi yang dibuat secara berjamaah juga membuat rangsangan agar tetap terjaga Pak. Saat salah satu dari kami mulai terwujud, saat itu juga bisa menjadi motivasi tersendiri bagi yang lain….

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Keren ceritanya, Mas Darul. Terinspirasi dari bukunya Pak Rhenald Kasali-kah? πŸ™‚

      • Awalnya sih gegara dapat cerita dari seorang teman. Menang lomba blog untuk ke luar negeri tapi gagal gegara ngurus transport kelamaan. Kesempatan ke luar negeri akhirnya terbuang sia-sia.

        Terus kita mikir, kenapa enggak kita mempersiapkan terlebih dahulu passport, toh bisa diperpanjang 5 tahun sekali untuk menyambut kesempatan yang akan datang. Daripada setelah ada kesempatan baru ribet ngurus passport. Hehehehe

        Kemudian sempat baca postingan di Facebook dari Pak Rhenald kasali, jadi semakin mantap sih Pak. Bikin rame-rame deh akhirnya…

        Wah kapan kembali ke Indonesia Pak?

        • mm

          Medhy Aginta Hidayat

          Inspiratif, Mas Darul. πŸ™‚

          Insyaallah, semoga sekolah saya selesai akhir tahun ini. Doakan juga, Mas Darul.

  4. Menulis mimpi. Diawal saya kuliah d Trunojoyo, saya mulai menulis mimpi2 saya. Awalnya sama pak. Saya tulis di dinding kamar. Semester2 awal aman. Gak ada yg komentar. Menginjak tahun kedua, mimpi saya semakin bertambah dan mungkin aneh bagi orang lain. walhasil kalo ada teman yg main ke kos dan tahu mimpi2 saya, kadang malah saya diceramahi jangan ketinggian mimpinya atau apa lah. walhasil saya menulis mimpi2 saya di buku. yg di dinding saya copot dan simpan.
    di tahun ke empat kuliah. Entah efek dari rumor bahwa skripsi anak TI itu sulit atau apa, saya membatasi mimpi saya. Cukup sedikit mimpi yg penting tercapai. Itu pikir saya.

    saat itu saya hanya menulis 3 keinginan. Lulus 3,5tahun dan memperoleh IPK terbaik. Alhamdulillaaaaaahhh tercapai.. untuk keinginan ke tiga. saya menggunakan kata If. Jika kerja maka saya kerja jika kuliah maka saya kuliah. Ternyata penggunaan kata jika dan membatasi mimpi itu justru membuat saya tidak fokus.
    Sekarang saya sedang memulai untuk menuliskan kembali satu demi satu mimpi saya πŸ™‚

    Kalau pak Medan bagaimana menuliskannya? Apakah pernah menulis pengandaian juga?

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Keren, Mbak Ria. Inspiratif.

      Saya biasanya menuliskan impian dalam bentuk present tense (sekarang). Kadang-kadang malah saya tulis dengan kondisi sudah terjadi. Masih ditambah kalimat “Alhamdulillah, saya berhasil …………….”

      Itu yang saya lakukan, Mbak Ria. πŸ™‚

  5. Saya merinding membacanya, Pak.
    Sudah gitu aja cerita saya. Karena sudah lengkap diceritakan Darul di atas. Hehe.. πŸ™‚

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Hehehe. Mari dibagikan ilmunya, Mas Wahyu. πŸ™‚

  6. Subhanallah… Merinding bacanya pak,

    Sepertinya mulai hari ini saya wajib dan harus segera menulis catatan mimpi seperti yg pak mendhy selama ini lakukan.

  7. nugroho devied aditya

    bapak… youre my inspiration, saya coba menulis impian di selembar kertas tp goal nya tdk sesuai dg impian yg saya tuliskan, dan semua itu terasa sangat amatlah susah bapak. beri kami sedikit step agar saya tetap konsisten dg impian-impian saya bapak , terima kasih

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Halo Nugroho,

      Thanks apresiasinya. πŸ™‚

      Saya sendiri sebenarnya berangkat dari sekedar coba-coba kok, Nugroho. Caranya juga persis seperti yang saya tulis di artikel ini. Tidak ada yang istimewa dan saya kira semua orang bisa melakukannya. Cuma satu hal yang saya kira penting diingat: kita harus percaya bahwa impian yang kita tulis tersebut benar-benar bisa terwujud. Tanpa keyakinan tersebut, apapun yang kita lakukan akan bertentangan dengan keyakinan kita sendiri.

      • nugroho devied aditya

        berarti kuncinya adalah percaya dan yakin bahwa impian yg kita tulis benar-benar bisa terwujud. terima kasih bapak atas arahan dan bimbingan bapak, mulai sekarang saya akan percaya dan yakin bapak. you are still my inspiration bapak, thank you very much

  8. Saya juga pernah dengar sih cara ini, tp saya belum menerapkannya, impian sy hanya tersimpan diingatan sy. Tapi setelah baca tulisan ini, kayanya benar juga harus dituliskan secara visual πŸ™‚

  9. Keren gan, sangat memotivasi.

  10. Hastira

    memamng kita perlu bermimpi dan bejuang agar impian terwujud ya, bukan hanya bermimpi saja ditambah berdoa

  11. Mauliadi ramli

    Assalamualaikum mas.slam kenal.Wah inspiratif Skali mas ceritanya . Saya juga pengen crita mas . Waktu SMP saya paling senang menulis nama lengkap saya di bagian belakang sampul buku tulis saya. Ada dua Hal yg sering saya tulis 1. Perwira TNI jendral . 2. FROFESOR. Trus pake nama saya tuh belakangnya hehe . Nah 2009 lulus SMA saya berhasil lolos sampai tes perwira tingkat pusat di AAU Jogja mewakili Sulawesi banyak 11 org. Tapi GAGAL. Hehe. Stlah gagal dan sempat stres berkat dorongan mbakku saya dapat kesempatan kuliah sampai jenjang magister sosiologi di Jawa (meskipun sampai skrang masih gak percaya knapa saya mau kuliah sampai s2). Nahh stelah baca tulisan mas. Mungkin tulisan itu yg membawa saya ke proses seperti ini,rejeki saya bukan di TNI. Semoga bisa kuliah S3 kaya mas nantinya di luar negeri aminn….!

  12. Beberapa tahun lalu saya bermimpi bisa kuliah, dimana saja asal bersama passion saya, semakin kesini saya semakin dekat saya dengan impian saya, bertemu orang-orang hebat di bidang yang sangat saya sukai, dan akhirnya bisa benar* berada dijalan menuju impian saya, sekarang saya merasa saya sudah puas dg pencapaian saya ini, meskipun belum sepenuhnya terwujud, saya mulai malas, suka ngeluh dsb, sensasi nya tdk spt dulu, namun itu satu dari sekian banyak impian yg saya pernah tulis sebelumnya, ketika beberapa waktu lalu saya mendapati buku saya dipenuhi kata kata Sosiologi dan Jerman, saya kembali bersemangat agar “Jerman : Leipzig” bisa benar* terwujud.

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Aamiin. Semoga bisa benar-benar terwujud Mbak Fafa. Good luck! πŸ™‚

  13. Inspiratif jd pengingat, penyemangat saya. beberapa sudah mencoba tp gagal, tp msih bnyak impian saya di usia 20.an ini. Moga saya juga sama kyak bapak.

  14. Tulisan yang bagus pak, kalau tidak salah saya rajin cek update di blog bapak lain yang tentang blog. Namun, sudah sangat jarang sekali saya mampir ke blog seperti itu.

    Sekarang ketemu lagi dengan bapak calon Prof. hehe

    Thanks for the inspiring stories. Saya sudah hampir meraih mimpi saya, tetapi takdir Allah berkata lain, saya harus kembali ke Tanah Air dengan begitu cepatnya. Semoga dapat kembali merajut mimpi yang sempat tertunda tersebut.

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Aamiin. Yakin pasti bisa, Mas Fajar. Good luck for the journey! πŸ™‚

  15. andika

    Dulu waktu sya ngamalin loa masih bnyak kekurangannya dan jg masih jauh dari hasil ntah brp lama tiba-tiba sya dpet kyk insting bhwa KLO kita pengen sesuatu kita harus pura2 bahwa AP yg kita pengen dh dpet jdi awal mulanya wktu SMA sy berpura2 jd orang paling pinter dikelas padahal sy orangnya slalu rangking terakhir tpi sya berusaha buat menyesuaikan seperti merubah bahasa tubuh dan menumbuhkan perasaan yakin KLO kita seolah2 pling pinter dikelas
    Hasilnya luar biasa sya dri rangking terakhir bisa rangking pertengahan dan ada satu mata pelajaran yg bisa dikatakan sulit dan saya mendapatkan nilai tertinggi dikelas
    Ad pengalaman lagi termaksud iseng jg dan sya berpura2 jd orang paling ganteng diduniablh percaya bleh g gan KLO kondisi sy LG bgus cewe it dteng dgn sendirinya pengen Deket bnyak yg nitip salam cuman mengubah pola bahasa tubuh sy bisa dideketin cewe walaupun g terlalu bnyak tp ad..
    Contoh kyk skrg sya pengen jd tentara sy smpet stress Krn sya udah 5 kali tes selalu kalah jd sy jg berpura2 bahwa sy skrg seorang tentara entah knp jalan sya tahun kmaren dipermudah smpe skrg Alhamdulillah bisa kesampean..

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Congrats, Mas Andika. Ikut seneng membaca ceritanya. πŸ™‚

Leave a Reply

Read more:
Pujian
Pujian

“This is a really great paper, and...

Close