Jean Baudrillard, Simulasi dan Hiperrealitas

“All that is real becomes simulation” (Jean Baudrillard)

Semua yang nyata kini menjadi simulasi. Bagi Jean Baudrillard, seorang sosiolog asal Perancis yang banyak meneropong persoalan kebudayaan kontemporer, ungkapan bernada nihilis diatas barangkali adalah cara terbaik untuk menggambarkan realitas kebudayaan dewasa ini.

Jean Baudrillard dilahirkan di kota Riems, Perancis Barat, pada 5 Januari 1929. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga petani yang kemudian pindah ke kota Paris dan bekerja sebagai pegawai di Dinas Pelayanan Masyarakat. Ia sempat mengalami masa kejayaan dan kebangkrutan Fasisme. Keluarganya bukanlah keluarga berpendidikan. Bersama saudara-saudaranya yang lain Baudrillard hidup dalam tradisi keluarga petani urban yang sederhana. Bahkan, ia adalah orang pertama dalam keluarganya yang bekerja sebagai ilmuwan secara serius. Ia menyelesaikan studi strata pertamanya di Universitas Sorbonne Paris dan mempelajari bahasa serta sejarah Jerman sebelum akhirnya mendapatkan gelar doktor di bidang sosiologi. Selama menjadi mahasiswa, Baudrillard aktif dalam organisasi mahasiswa sosialis dan mengakui sebagai pengikut Marxisme.

Baudrillard menyelesaikan tesis sosiologinya pada tahun 1966 di Université de Paris-X Nanterre di bawah bimbingan Henry Lefebvre, seorang tokoh anti-strukturalis Perancis kondang saat itu. Di Université de Paris-X Nanterre inilah Baudrillard membangun karir di dunia akademik mulai dari jenjang maître assistant (Assistant Professor), maître de conférences (Associate Professor), hingga menjadi Professor penuh.

Setelah mengajar di Université de Paris-X Nanterre, selanjutnya Baudrillard bergabung dengan Roland Barthes dan mengajar di Ecole des Hautes Etudes. Ia mulai terpengaruh pemikiran Barthes, selain tentu saja pemikiran Karl Marx. Semenjak berada di sanalah Baudrillard mulai aktif menulis disamping sibuk berpartisipasi dalam praksis gerakan sosialisme Perancis.

Agak berbeda dengan para pemikir sosial dan filsafat lainnya yang memusatkan diri pada metafisika dan epistemologi, Baudrillard lebih memilih kebudayaan sebagai medan penelitian. Ia mengambil pilihan itu bukan tanpa tujuan. Secara sadar, Baudrillard ingin mengungkapkan terjadinya transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat Barat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas.

Tulisan-tulisan awal Baudrillard di majalah Calvino dan Les Temps Modernes milik Jean Paul Sartre, menunjukkan bahwa ia adalah seorang penganut sekaligus kritikus brillian pemikiran Karl Marx. Karya-karya terjemahannya tentang Bertolt Brecht dan Arnold Weiss yang banyak dipengaruhi Marx, secara jelas juga menunjukkan kekritisannya terhadap gagasan Marx mengenai nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). Ia mencoba menggabungkan pemikiran Marx dengan strukturalisme Perancis. Sedikit berbeda dengan Lefebvre – sang guru – Baudrillard tidak menolak strukturalisme. Ia masih meminjam dan mempergunakan beberapa istilah strukturalis dalam pemikirannya. Selain dari Marx, Baudrillard mengambil alih pemikiran Barthes mengenai semiologi, Marcel Mauss – seorang antropolog strukturalis – mengenai gift atau pemberian, dan Georges Bataille mengenai expenditure atau belanjaan.

Nama Jean Baudrillard mulai dikenal luas dalam diskursus kebudayaan kontemporer ketika bukunya, The Mirror of Production (1975) dipublikasikan di Amerika Serikat. Dengan gaya menulisnya yang khas dan orisinal: deklaratif, hiperbolik, aforistik, skeptis, fatalis, nihilis, namun tajam dan cerdas, karya-karyanya segera memiliki arti tersendiri. Ia banyak diundang berceramah di dalam maupun di luar negeri, serta menulis di berbagai media, misalnya di surat kabar Liberation dan Guardian yang secara berkala memuat tulisannya. Karya-karyanya pun semakin banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Bersamaan dengan itu, perhatian terhadap tema postmodernisme semakin besar, dan mendorong minat terhadap pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh postmodernisme, termasuk Baudrillard. Tahun-tahun berikutnya nama dan gagasan Baudrillard semakin bersinar.

Pada tahun 1968 Baudrillard mulai menulis buku pertamanya, The System of Object (1968) yang sangat dipengaruhi oleh karya Roland Barthes, The Fashion System (1967). Dalam buku yang belum memperlihatkan minatnya secara serius terhadap persoalan kebudayaan postmodern itu Baudrillard mencoba mengadopsi metode semiologi Barthes untuk membongkar hubungan dan mistifikasi objek-subjek dalam realitas masyarakat modern.

Dalam buku ini Baudrillard menyatakan bahwa di bawah kejayaan era kapitalisme lanjut, mode of production kini telah digantikan oleh mode of consumption (Bertens, 1995: 146). Konsumsi inilah yang kemudian menjadikan seluruh aspek kehidupan tak lebih sebagai objek, yakni objek konsumsi yang berupa komoditi. Sistem-sistem objek, yang merupakan judul buku Baudrillard, adalah sebuah sistem klasifikasi yang membentuk makna dalam kehidupan masyarakat kapitalisme lanjut. Melalui objek-objek atau komoditi-komoditi itulah seseorang dalam masyarakat konsumer menemukan makna dan eksistensi dirinya.

Menurut Baudrillard, fungsi utama objek-objek konsumsi bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya, melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai-tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media (Baudrillard, 1969: 19). Apa yang kita beli, tidak lebih dari tanda-tanda yang ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi, yang membedakan pilihan pribadi orang yang satu dengan yang lainnya. Tema-tema gaya hidup tertentu, kelas dan prestise tertentu adalah makna-makna yang jamak ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi. Dengan kata lain, objek-objek konsumsi kini telah menjelma menjadi seperangkat sistem klasifikasi status, prestise bahkan tingkah laku masyarakat.

Selanjutnya dalam Consumer Society (1970), Baudrillard mengembangkan lebih jauh gagasannya tentang kedudukan konsumsi dalam masyarakat konsumer. Menurutnya, konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard, 1970: 29). Baudrillard menyatakan bahwa mekanisme sistem konsumsi pada dasarnya berangkat dari sistem nilai-tanda dan nilai-simbol, dan bukan karena kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan (Baudrillard, 1970: 47). Dengan pernyataan ini Baudrillard samasekali tidak bermaksud menafikan pentingnya kebutuhan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa dalam masyarakat konsumer, konsumsi sebagai sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan.

Masyarakat konsumer yang berkembang saat ini adalah masyarakat yang menjalankan logika sosial konsumsi, dimana kegunaan dan pelayanan bukanlah motif terakhir tindakan konsumsi, melainkan lebih kepada produksi dan manipulasi penanda-penanda sosial. Individu pun menerima identitas mereka dalam hubungannya dengan orang lain bukan dari siapa dan apa yang dilakukannya, namun dari tanda dan makna yang mereka konsumsi, miliki dan tampilkan dalam interaksi sosial. Dalam masyarakat konsumer, tanda adalah cerminan aktualisasi diri individu paling meyakinkan.

Melalui kedua buku ini Baudrillard dengan tegas menolak prinsip nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value) Marx dan menyatakan bahwa aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya merupakan aktivitas non-utilitarian. Ia mengadopsi pendapat Mauss dan Bataille bahwa dalam institusi semacam Kula dan Potlach dalam masyarakat primitif, kebiasaan memberi sesuatu dan membelanjakan sesuatu ternyata lebih didasarkan pada prestise dan kebanggaan simbolik, bukan pada kegunaan. Inilah prinsip yang kini semakin transparan berlangsung dalam aktivitas konsumsi masyarakat dewasa ini.

Tahun 1981 terbit karyanya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981) yang diterbitkan oleh Telos Press. Dalam karyanya ini Baudrillard semakin mempertajam kritiknya atas prinsip nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value) Marx yang dianggapnya sudah tidak relevan lagi digunakan sebagai kerangka memandang realitas masyarakat dewasa ini.

Dalam masyarakat kapitalis, seperti dijelaskan Marx, nilai-tukar mendominasi nilai-guna. Melalui komoditi dan uang, segala sesuatu dalam realitas masyarakat dewasa ini berfungsi sebagai nilai-tukar untuk memperoleh keuntungan. Berbeda dengan Marx, Baudrillard mengajukan prinsip nilai-tanda (sign-value) dan nilai-simbol (symbolic-value) sebagai kerangka membaca realitas dewasa ini yang ditegakkan oleh konsumsi dan reproduksi. Misalnya, sebuah mobil Porsche atau BMW misalnya, dinilai bukan karena manfaatnya sebagai alat transportasi (use-value) atau harganya yang mahal (exchange-value), melainkan karena ia menjadi simbol gaya hidup, prestise (symbolic-value), kemewahan dan status sosial pemiliknya (sign-value).

Tahun 1983, karya magnum opus Baudrillard, Simulations (1983), diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris. Dalam buku yang segera menjadi klasik ini, Baudrillard mengintrodusir sebuah karakter khas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Menurutnya, kebudayaan Barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.

Dalam kebudayaan simulasi, kedua tanda tersebut saling menumpuk dan berjalin kelindan membentuk satu kesatuan. Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu, yang semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri. Dalam era postmodern, prinsip simulasi menjadi panglima, dimana reproduksi (dengan teknologi informasi, komunikasi dan industri pengetahuan) menggantikan prinsip produksi, sementara permainan tanda dan citra mendominasi hampir seluruh proses komunikasi manusia.

Dalam masyarakat simulasi seperti ini, segala sesuatu ditentukan oleh relasi tanda, citra dan kode. Identitas seseorang misalnya, tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi silang-sengkarut tanda, citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain.

Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan, melainkan model-model yang ditawarkan televisi, iklan atau tokoh-tokoh kartun. Adalah tempat-tempat seperti Disneyland, atau Universal Studio; bintang film seperti Angelina Jolie atau penyanyi seperti Justin Bieber; iklan celana Levis atau jam tangan Guess; film Star Wars; tokoh boneka Barbie, tokoh kartun Spiderman atau bahkan Minions yang kini menjadi model-model acuan dalam membangun citra, nilai dan makna dalam kehidupan sosial, budaya serta politik masyarakat dewasa ini.

Dalam wacana simulasi pula, manusia mendiami suatu ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan yang palsu sangat tipis. Manusia kini hidup dalam ruang khayali yang nyata sebuah fiksi yang faktual. Realitas-realitas simulasi menjadi ruang kehidupan baru dimana manusia menemukan dan mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Lewat televisi, misalnya, dunia simulasi tampil secara sempurna. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi, reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda.

Dengan televisi realitas tidak hanya diproduksi, disebarluaskan atau direproduksi, bahkan juga dimanipulasi. Realitas simulasi seperti ini membentuk sebuah kesadaran baru bagi masyarakat dewasa ini. Televisi yang disebut Baudrillard sebagai artefak postmodernisme yang paling meyakinkan, pada kenyataannya sama nyatanya dengan pelajaran Sejarah atau Etika di sekolah sebab keduanya sama-sama menawarkan informasi dan membentuk pandangan serta gaya hidup manusia. Bahkan, Doraemon atau iklan shampoo Sunsilk di televisi seolah lebih ampuh dari ajaran budi pekerti, moral dan agama dalam membantu manusia menemukan citra diri dan makna hidupnya (Piliang, 1997: 194).

Tahun 1987 terbit karyanya The Ecstasy of Communication (1987). Dalam buku ini Baudrillard menyatakan bahwa dengan transparansi makna dan informasi, masyarakat Barat dewasa ini telah melampaui ambang batas menuju keadaan permanent ecstasy: ekstasi sosial (misalnya: massa anonim), ekstasi tubuh (misalnya: kegemukan), ekstasi seks (misalnya: kecabulan), ekstasi kekerasan (misalnya: teror), dan ekstasi informasi (misalnya: simulasi). Saat ini, hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat Barat dituntun oleh logika ekonomi kapitalis yang menawarkan keterbukaan ekstrim, kebaruan ekstrim, perubahan ekstrim dan percepatan ekstrim. Dalam keadaan demikian, persoalan gaya hidup, mode dan penampilan menjadi nilai baru yang menggantikan nilai kebijaksanaan, kearifan dan kesederhanaan.

Tahun 1989, terbit karyanya, Simulacra and Simulacrum (1989), yang merupakan kelanjutan karya monumentalnya Simulations (1983), dalam edisi bahasa Inggris. Dalam karyanya tersebut, Baudrillard melahirkan gagasannya tentang masyarakat hiperrealitas. Adalah Marshall McLuhan sebenarnya yang pertama-tama membuka pembicaraan mengenai gagasan hiperrealitas dalam kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Melalui dua bukunya, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964), McLuhan meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang, menuju perpanjangan system syaraf (Kellner, 1994: 139).

Gagasan inilah yang selanjutnya diambil alih dan dikembangkan oleh Baudrillard. Pemikiran Baudrillard mendasarkan diri pada beberapa asumsi hubungan manusia dan media, yang disebut Baudrillard sebagai realitas mediascape (Baudrillard, 1983: 14). Dalam realitas mediascape media massa menjadi produk budaya paling dominan. Dengan media massa, media kini tak lagi sebatas sebagai perpanjangan badan manusia ala McLuhan, namun media kini sekaligus merupakan ruang bagi manusia untuk membentuk identitas dirinya.

Menurut Baudrillard, realitas simulasi yang dihasilkan oleh berbagai teknologi baru – micro processor, memory bank, remote control, telecard, laser disc, optic cable, drone – telah mampu mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan bahkan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang lebih nyata dari yang nyata, semu dan meledak-ledak.

Dalam dunia hiperrealitas, objek-objek asli yang merupakan hasil produksi bergumul menjadi satu dengan objek-objek hiperreal yang merupakan hasil reproduksi. Realitas-realitas hiper, seperti online media, Facebook, Twitter, Disneyland, shopping mall dan televisi nampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya, dimana model, citra-citra dan kode hiperrealitas bermetamoforsa sebagai pengontrol pikiran dan tindak-tanduk manusia.

Dengan televisi dan media massa misalnya, realitas buatan (citra-citra) seolah menjadi lebih real dibanding realitas aslinya. Lebih jauh, realitas buatan (citra-citra) kini tidak lagi memiliki asal-usul, referensi ataupun kedalaman makna. Tokoh-tokoh film Star Wars, Spiderman, boneka Barbie, Jurrasic Park, atau bahkan minions – yang semuanya merupakan citra-citra buatan – adalah realitas tanpa referensi, namun nampak seolah lebih dekat dan nyata ketimbang keberadaan saudara atau teman kita sendiri. Dalam kondisi seperti ini, realitas, kebenaran, fakta dan objektivitas kehilangan eksistensinya. Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri. Yakni, era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asal-usul dan referensi, dimana yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi, namun selalu dan selalu direproduksi.

Karya-karya Baudrillard yang lain kemudian berturut-turut diterbitkan ke dalam bahasa Inggris, seperti: Forget Foucault (1987), The Evil Demon of Images (1987), America (1989), Cool Memories (1990), Seduction (1990), Fatal Strategies (1990), Revenge of Crystal (1990), Cool Memories II (1991), The Transparency of Evil (1992), Symbolic Exchange and Death (1993), serta The Illusion of The End (1994).

Sementara itu tanggapan serius terhadap pemikiran-pemikiran Baudrillard pun semakin besar dengan ditandai oleh terbitnya buku-buku kajian kritis seperti: Baudrillard Live, Selected Interviews (1993) diterbitkan oleh Routledge, Selected Writing (1989) diterbitkan oleh Cambridge Press, Baudrillard: Critical and Fatal Theory (1991) diterbitkan oleh Routledge, Baudrillards Bestiary, Baudrillard and Culture (1991) diterbitkan oleh Routledge, Jean Baudrillard: From Marxisme to Postmodernism and Beyond (1989) diterbitkan oleh Cambridge Press, serta Baudrillard Reader (1993) diterbitkan oleh Routledge. Tahun 2004, International Journal of Baudrillard Studies, sebuah jurnal khusus untuk mengkaji pemikiran Jean Baudrillard juga diluncurkan.

Sebagai ilmuwan sosial, selain menulis buku, Baudrillard juga kerap menulis artikel di berbagai jurnal ilmiah baik yang berbahasa Perancis maupun Inggris dan media massa umum. Ia sering mengisi kolom di surat kabar harian Liberation dan Guardian, serta menulis di jurnal-jurnal ilmiah semisal Spring, October, Art and Text, New Literary History, On The Beach, Calvino serta Les Temps Modernes, jurnal milik filsuf eksistensialis Perancis Jean Paul Sartre.

Jean Baudrillard, pemikir dan kritisi kebudayaan besar ini meninggal karena penyakit typhoid pada tanggal 6 Maret 2007, dalam usia 77 tahun di Paris, Perancis. Mangkatnya teoritisi sosial besar ini meninggalkan kedukaan mendalam diantara teman-teman dan para pembaca karyanya di seluruh dunia.

Terlepas dari sejumlah kelemahan argumentasinya, harus diakui bahwa pemikiran Baudrillard tentang sisi-sisi kebudayaan postmodern dewasa ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pengembangan tubuh-pengetahuan (body of knowledge) ilmu sosiologi, filsafat dan studi kebudayaan (cultural studies). Pemikiran-pemikiran Baudrillard sangat berguna terutama bagi upaya pemahaman realitas kebudayaan dewasa ini yang semakin kompleks dan berubah cepat. Demikian pula halnya dengan pendekatannya yang orisinal dan kritis, kiranya dapat menjadi pilihan alternatif bagi proses pembacaan realitas kebudayaan dewasa ini.

* Versi pendek tulisan ini pernah dimuat di rubrik Oeuvre, Surabaya Post, medio Juni 2009.

Photo credit: Casefiremagazine.co.uk

← Previous post

Next post →

1 Comment

  1. Andi Mattingaragau

    Super sekali, sebuah ulasan yg mengingatkan sy tentang kearifan lokal berbasis nilai di Sulawesi Selatan…

Leave a Reply

Read more:
Serba-Serbi Dari Amerika: Yang Lucu, Unik dan Berbeda di Amerika Serikat
Serba-Serbi Dari Amerika: Yang Lucu, Unik dan Berbeda di Amerika Serikat

“Apa yang menarik di Amerika Serikat?” Ini...

Close