Serba-Serbi Dari Amerika: Yang Lucu, Unik dan Berbeda di Amerika Serikat

“Apa yang menarik di Amerika Serikat?”

Ini pertanyaan yang sering saya terima dari beberapa teman dan mahasiswa di tempat saya mengajar di Indonesia.

Tulisan “Serba-Serbi Dari Amerika: Yang Lucu, Unik dan Berbeda di Amerika Serikat” ini lahir dari keinginan untuk menjawab pertanyaan tersebut dan sekedar berbagi pengalaman pribadi tentang apa yang saya lihat dan alami selama tinggal dan belajar di Amerika Serikat.

Tentu saja, bisa jadi ada pengalaman lain dan berbeda dengan yang saya tulis di artikel ini.

Selamat membaca!

1. Jalur Lalu Lintas di Sebelah Kanan

Di Indonesia, kita akrab dengan teriakan kenek kendaraan umum, “Kiri, kiri, kiri ….” Pejalan kaki di Indonesia juga terbiasa berjalan di lajur sebelah kiri. Berbeda dengan di Indonesia, jalur lalu lintas kendaraan (dan juga orang) di Amerika Serikat berada di lajur sebelah kanan jalan. Jadi berkebalikan. Bagi orang Indonesia, lumayan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan aturan yang berbeda ini. 🙂

2. Setir Mobil di Sebelah Kiri

Berbeda dengan mobil di Indonesia, mobil produksi Amerika memang didesain dengan posisi setir di sebelah kiri. Awal-awal punya mobil disini, saya juga sering keliru menuju ke pintu sebelah kanan, padahal setir mobil ada di sebelah kiri. Mengemudi dengan posisi setir di sebelah kiri juga membutuhkan waktu untuk membiasakan diri. Misalnya, tuas persneling, yang di Indonesia biasa kita gerakkan dengan tangan kiri, di Amerika harus kita gerakkan dengan tangan kanan. 🙂

3. Air Kran Siap Minum

Di Amerika Serikat, dan juga di kebanyakan negara maju, air kran bisa diminum langsung tanpa perlu dimasak lagi. Tidak ada bau. Dan tidak perlu takut sakit perut. Hal ini karena standar air yang dihasilkan oleh perusahaan air minum di negara-negara maju memang harus bersih, higienis dan yang terpenting layak untuk diminum langsung. Di banyak tempat publik di Amerika juga biasanya disediakan kran tempat minum air yang disebut “water fountain.” Jadi jika kita kehausan, tinggal mencari kran air dan bisa langsung meminum air dari kran tersebut. 🙂

4. S-1 Tanpa Skripsi

Kebanyakan, jika tidak semua, program S-1 di Amerika Serikat diselesaikan tanpa skripsi. Ya, benar: TANPA harus menulis skripsi untuk menjadi sarjana. Untuk lulus program S-1, mahasiswa disini cukup menyelesaikan beban kredit (SKS) mata kuliah yang dipersyaratkan dalam waktu yang ditentukan (4 tahun). Jika syarat itu terpenuhi, ia berhak menyandang gelar sarjana. Enak? Jangan iri ya. 🙂

5. Pindah Jurusan di Tengah Masa Studi

Berbeda dengan di Indonesia, mahasiswa S-1 di Amerika bisa berpindah jurusan di tengah-tengah masa studi. Misalnya, seorang mahasiswa yang sudah duduk di semester 3 dan merasa salah masuk jurusan di Program Studi Komunikasi, bisa mengajukan permohonan pindah jurusan ke Program Studi Sosiologi. Atau sebaliknya. Dengan sistem ini, prestasi mahasiswa menjadi lebih maksimal karena ia belajar di jurusan yang benar-benar ia sukai.

6. Botol Air Minum di Dalam Tas

Sejak masuk usia sekolah, anak-anak di Amerika dibiasakan untuk membawa botol air minum di dalam tas. Uniknya, kebiasaan ini ternyata dibawa hingga ke tingkat perguruan tinggi. Hampir setiap mahasiswa disini selalu membawa botol air minum di dalam tas mereka. Awalnya bagi saya kebiasaan ini agak lucu. Mahasiswa kok masih bawa botol air minum? Tapi akhirnya saya sendiri terpengaruh kebiasaan ini. Sejak semester dua hingga saat ini, saya juga selalu sedia botol air minum jika ke kampus. Kalau habis, tinggal mengisi di kran air “water fountain” yang memang siap minum. Hemat dan sehat. 🙂

7. Tidak Ada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi

Di Indonesia dikenal beberapa skema seleksi nasional masuk perguruan tinggi seperti SNMPTN dan SBMPTN. Di Amerika, tidak ada seleksi nasional seperti ini. Untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, lulusan SMA di Amerika cukup mendaftar secara individu ke kampus yang dituju dengan syarat memiliki nilai SAT (semacam nilai tes akademik) dan mendapatkan rekomendasi dari sekolah (biasanya kepala sekolah). Mereka bisa mendaftar di banyak perguruan tinggi agar peluang diterima semakin besar. Proses pendaftaran juga berlangsung dua kali setahun, Spring Semester dan Fall Semester. Jika gagal masuk di Spring Semester, mereka bisa mendaftar lagi di Fall Semester pada tahun yang sama.

8. Tidak Ada Spanduk di Kampus

Selama 4 tahun tinggal di Amerika, saya belum pernah menemukan spanduk kegiatan kemahasiswaan di kampus. Lalu bagaimana kegiatan kemahasiswaan bisa diketahui oleh mahasiswa? Lewat email. Setiap mahasiswa di Amerika secara otomatis mendapatkan akun email dari kampus. Melalui email itulah organisasi kemahasiswaan setiap minggu mengabarkan berbagai kegiatan yang mereka adakan. Efektif dan efisien. Lingkungan kampus pun bersih dari spanduk-spanduk yang seringkali justru mengganggu keindahan. 🙂

9. Office Hours Bagi Dosen

Untuk bertemu dosen, mahasiswa di Amerika biasanya memanfaatkan office hours. Apa itu office hours? Sederhananya, office hours adalah jam/waktu khusus yang bisa digunakan mahasiswa untuk bertemu, berkonsultasi atau sekedar ngobrol dengan dosen di luar jam kuliah. Dengan sistem office hours, mahasiswa tidak perlu membuat janji untuk bertemu dosen. Cukup bertemu pada jam office hours. Setiap dosen juga harus stand by pada office hours yang ia pilih sendiri, misalnya setiap hari Selasa, jam 15:00 – 17:00. Dengan sistem office hours ini, tidak ada alasan bagi dosen untuk menolak, mengubah atau membatalkan pertemuan dengan mahasiswa jika pertemuan dilakukan pada jam office hours.

10. Harga BBM Berubah Setiap Saat

Ya, harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika bisa berubah setiap saat. Pasalnya, harga BBM di Amerika dilepas mengikuti harga pasar dunia. Seringkali terjadi, harga bensin hari ini berbeda dengan harga kemarin. Demikian halnya, harga bensin di suatu POM Bensin seringkali berbeda dengan di POM Bensin lainnya. Jika harga pasar minyak dunia turun, harga BBM di Amerika pun turun. Jika harga minyak dunia naik, harga BBM disini pun ikut naik.

11. Tidak Ada Tukang Tambal Ban

Kalau punya sepeda di Amerika dan kebetulan bannya bocor, jangan harap akan menemukan tukang tambal ban kaki lima di pinggir jalan. Jika ban bocor, satu-satunya solusi murah adalah membeli ban baru dan mengganti ban sendiri. Pasalnya, mengganti ban di toko sepeda di Amerika harganya lumayan mahal. Selama tinggal di Amerika, saya sudah lebih dari 5 kali membeli ban sepeda dan mengganti sendiri ban sepeda yang bocor. Untung harga ban sepeda disini tidak terlalu mahal. 🙂

12. Walk-in Graduation: Wisuda Meskipun Belum Lulus

Di Indonesia, mahasiswa hanya boleh mengikuti wisuda jika sudah dinyatakan lulus. Artinya, sudah menyelesaikan semua kewajiban studi, termasuk lulus ujian skripsi. Berbeda dengan di Indonesia, di Amerika dikenal sistem “walk-in graduation.” Dengan sistem ini, mahasiswa bisa mengikuti wisuda meskipun BELUM dinyatakan lulus. Mahasiswa yang “hampir lulus” (misalnya cuma tertinggal 1 mata kuliah) biasanya mengikuti wisuda walk-in graduation. Setelah wisuda, mahasiswa yang mengikuti walk-in graduation harus tetap tinggal di kampus untuk menyelesaikan kewajiban studi yang tersisa. Enak ya? 🙂

13. Bis Kampus Gratis

Kampus-kampus besar di Amerika Serikat biasanya menyediakan layanan bis kampus gratis bagi mahasiswa. Kebetulan kampus tempat saya belajar juga menyediakan bis gratis seperti ini. Bis kampus ini melayani rute dari titik-titik penting di sekitar kampus seperti pusat kota, tempat parkir mahasiswa, pusat belanja dan apartemen mahasiswa. Titik tujuan akhirnya adalah gedung student center yang terletak di tengah-tengah kampus. Layanan bis kampus gratis ini sangat membantu mahasiswa yang tidak punya mobil atau lagi malas jalan kaki ke kampus.

14. SD Hanya Sampai Kelas 5

Di Indonesia, pendidikan dasar setingkat SD harus ditempuh selama 6 tahun. Di Amerika Serikat, jenjang pendidikan dasar (SD) hanya sampai kelas 5. Kelas 6 sudah masuk SMP (jadi kelas 6, 7 dan 8). Jenjang pendidikan atas (SMA) harus ditempuh selama 4 tahun, yaitu kelas 9, 10, 11 dan 12.

15. Menulis Dengan Pensil

Di Indonesia, menulis dengan pensil hanya dilakukan ketika kita masih duduk di bangku SD. Setelah menginjak bangku SMP, kebiasaan menulis dengan pensil digantikan dengan ballpoint. Yang menarik, di Amerika Serikat (dan juga di Jepang) kebiasaan menulis dengan pensil masih banyak dilakukan oleh para mahasiswa. Awalnya saya kira hanya sedikit mahasiswa yang menulis dengan pensil. Tapi ternyata saya salah. Lumayan banyak mahasiswa di Amerika yang terbiasa mencatat dengan pensil. Alasannya sederhana: mudah dihapus jika salah tulis. Benar juga. Mau meniru? 🙂

16. Recreation Center di Kampus

Kampus-kampus besar di Amerika biasanya memiliki “recreation center” dengan beragam fasilitas tempat mahasiswa melepas penat sambil berolahraga. Di “pusat rekreasi” kampus tempat saya belajar misalnya, tersedia kolam renang indoor, lapangan futsal indoor, lapangan bola basket indoor (4 buah), lapangan tenis dan bulutangkis indoor (4 buah), lapangan squash indoor (2 buah), fitness center, jogging track indoor, meja billyard (8 meja), dan meja pingpong (2 meja). Mahasiswa bisa menggunakan semua fasilitas recreation center secara gratis karena sudah termasuk dalam biaya SPP.

17. Perpustakaan Kampus Buka 24 Jam

Ya, perpustakaan kampus di Amerika rata-rata buka hingga 24 jam. Mahasiswa bisa belajar hingga larut malam bahkan hingga pagi. Meskipun sudah dibuka 24 jam, perpustakaan selalu penuh saat minggu-minggu ujian. Saya sering menemukan mahasiswa yang belajar hingga larut malam dan terlelap tidur di meja karena kecapekan belajar ketika minggu-minggu ujian tiba. Bagaimana dengan di Indonesia? 🙂

18. Tidak Pernah Ada Kuliah Kosong

Boleh percaya, boleh tidak. Ini tidak melebih-lebihkan. Selama empat tahun kuliah di Amerika Serikat, saya tidak pernah mengalami “kuliah kosong.” Nggak percaya kan? Tapi ini serius. Di Indonesia, adalah hal biasa jika kuliah kosong karena dosen berhalangan hadir, ada rapat mendadak, ada tamu penting, ada tugas ke luar kota, keluarga sakit, atau alasan lainnya. Di Amerika, insiden kuliah kosong adalah pelanggaran disiplin cukup berat bagi dosen. Sanksinya pun lumayan berat, mulai dari pengurangan jam mengajar di semester berikutnya, evaluasi dan penangguhan status dosen tetap, hingga pembatalan kenaikan pangkat dosen yang bersangkutan. Mungkin karena aturan ketat inilah, jarang sekali ada “kuliah kosong” di kampus-kampus di Amerika.

19. Polisi Kampus

Selain memiliki petugas keamanan (security guard, atau satpam kalau di Indonesia), kebanyakan kampus di Amerika juga memiliki satuan polisi khusus kampus. Polisi kampus adalah satuan polisi yang ditugaskan secara khusus untuk menjaga keamanan lingkungan kampus. Satuan polisi kampus memiliki kantor (atau pos) sendiri di dalam lingkungan kampus dan memiliki pakaian seragam khusus dengan badge lambang kampus. Mereka bertugas bergantian menjaga keamanan kampus selama 24 jam non-stop.

20. Sistem Distrik di Sekolah

Sekolah-sekolah negeri (SD, SMP, SMA) di Amerika menerapkan sistem distrik untuk penerimaan siswanya. Dengan sistem distrik ini, calon siswa hanya bisa mendaftar ke sekolah-sekolah tertentu di dalam distrik yang ada (sesuai jarak tempat tinggal), dan tidak boleh keluar dari distrik yang telah ditentukan. Dengan sistem ini, nyaris tidak ada istilah sekolah favorit.


Sekedar ingin berbagi. Semoga bermanfaat.

Image credit: AlphaCoders

← Previous post

Next post →

8 Comments

  1. Keren ya :D, S3 ya disana om ?

  2. Terima kasih sharing knowledgenya pak. Inspiratif sekali..

  3. ada kelebihan tentu ada kekurangan.. mungkin diartikel selanjutnya bisa dibahas kang Medhy..

  4. Wah, pendidikan di sana kyknya enak banget ya mas?
    TFS 😀

    • mm

      Medhy Aginta Hidayat

      Hehehe. Buat kita orang Indonesia, sebenarnya ada nggak enaknya juga sih, Mbak April. Misalnya, biaya pendidikan di Amerika (untuk pendidikan tinggi) adalah salah satu yang termahal di dunia. 🙂

Leave a Reply

Read more:
Karl Marx
Dinner Bersama Marx

Profesor Lo seorang lelaki paruh baya. Ia...

Close