Hari Jum’at (15/3/2019), publik tiba-tiba dikejutkan oleh penangkapan Muhammad Romahurmuziy, Ketua Umum PPP, dalam sebuah operasi tangkap tangan KPK di Surabaya. Romahurmuziy diduga terlibat praktik suap sejumlah jabatan struktural di Kemenag.

Keterkejutan publik bisa dimaklumi. Selama ini, di depan publik, Romahurmuziy dianggap sebagai salah satu politisi yang memiliki rekam jejak yang cukup “bersih”. Citra yang melekat dalam dirinya justru positif: muda, cerdas, trendy, progresif, berani, santun, dan agamis. Penangkapan Romahurmuziy dalam kasus suap seolah membuka mata khalayak bahwa citra dan penampilan politisi yang biasa dilihat oleh publik di media bisa berlawanan 180 derajat dengan apa yang tidak dilihat oleh publik.

Dunia Panggung

Erving Goffman, seorang sosiolog Amerika, dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menyatakan bahwa dunia sosial tak ubahnya seperti panggung pertunjukan. Dalam teori yang ia sebut sebagai dramaturgi ini, Goffman membedakan dunia sosial menjadi dua bagian: panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah ruang dimana individu menampilkan diri di depan publik; dunia buatan, dunia penuh gemerlap bintang, dunia semu-palsu yang sengaja dibuat dengan tujuan untuk dilihat dan menyenangkan para penonton.

Sementara itu, panggung belakang adalah ruang dimana individu tampil sebagai pribadi; dunia yang otentik, dunia yang sebenarnya, dengan segala cacat dan celanya. Di panggung depan, seseorang berusaha menampilkan sisi dirinya yang terbaik. Di panggung belakang, seseorang tampil apa adanya, menjadi dirinya sendiri.

Merujuk Goffman, individu cenderung untuk menampilkan dirinya secara lebih baik ketika berada di depan orang lain. Secara naluriah, di depan publik setiap individu melakukan apa yang oleh Goffman disebut sebagai praktik manajemen kesan (impression management). Bukan hal yang aneh, misalnya, ketika berhadapan dengan orang lain, seseorang cenderung bersikap ramah, sopan, terbuka, bersahabat, ceria, sabar, atau agamis, meskipun ketika tidak berhadapan dengan orang lain ia bisa bersikap berbeda atau bahkan bertentangan. Menurut Goffman, manajemen kesan dilakukan oleh individu dengan tujuan untuk membangun citra positif dan mendapatkan penerimaan penuh dari orang lain.

Dalam realitas dramaturgi, setiap individu berusaha memanfaatkan segala modal dan atribut yang dimiliki untuk tampil mengesankan di depan publik. Penampilan fisik, pakaian, cara bicara, bahasa tubuh, gelar, jabatan, kekayaan, silsilah keluarga, jaringan pertemanan hingga latar belakang agama kerap menjadi sarana atau props (dalam istilah Goffman) panggung depan. Sayangnya, publik seringkali mudah terpedaya oleh penampilan seseorang yang nyaris sempurna di panggung depan, tetapi melupakan kemungkinan penampilan yang sama sekali berbeda di panggung belakang.

Drama Para Koruptor

Dalam perspektif dramaturgi, penangkapan Romahurmuziy adalah bukti bahwa penampilan para koruptor di panggung depan (media) berhasil mengecoh khalayak publik. Sejatinya, sudah menjadi rahasia umum bahwa panggung dunia politik di Indonesia sangat rentan praktik korupsi. Temuan riset lembaga Transparency International Indonesia (2018) menyebutkan bahwa DPR dan DPRD adalah lembaga yang paling banyak melahirkan para koruptor di Indonesia. Yang menarik, di tengah kepercayaan masyarakat yang terus menurun terhadap lembaga legislatif ini, para politisi koruptor di Indonesia ternyata justru begitu piawai menyembunyikan aksi-aksi korupsi mereka.

Oknum-oknum politisi koruptor ini gesit bersiasat. Mereka menyadari betul bahwa setiap sisi kehidupan mereka akan selalu menjadi sorotan perhatian publik. Dalam situasi seperti ini, manajemen kesan (impression management) dalam panggung politik, terutama sebagai politisi bersih, menjadi sangat penting. Citra sebagai politisi yang mendukung upaya pemberantasan korupsi harus selalu dijaga. Penampilan di depan publik harus mengesankan diri sebagai politisi anti-korupsi.

Padahal, di belakang panggung, dengan cara sembunyi-sembunyi, praktik-praktik korupsi juga dilakukan oleh para oknum politisi koruptor ini. Layaknya panggung belakang pertunjukan, panggung belakang kehidupan para politisi ini berusaha ditutup rapat-rapat dengan menampilkan citra diri yang berbeda. Ketika tertangkap tangan, barulah publik tersadar bahwa oknum politisi yang seolah bersih tersebut ternyata adalah juga seorang koruptor.

Kasus suap yang melibatkan Romahurmuziy bukan tidak mungkin juga sedang dan masih dilakukan oleh oknum-oknum politisi koruptor lainnya. Di satu sisi, di depan panggung publik, mereka menampilkan diri sebagai politisi bersih. Namun, di sisi lain, di belakang panggung dan sorotan kamera, mereka tak lebih dari para bromocorah pencuri uang rakyat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat harus mewaspadai tingkah-polah para politisi kotor yang niscaya menyelamur menisbatkan diri menjadi para malaikat pembela rakyat. Penampilan nyaris sempurna di panggung depan dunia politik nyatanya bukanlah jaminan tingginya integritas dan komitmen moral para oknum politisi koruptor ini dalam melawan praktik-praktik korupsi.

Sebaliknya, apa yang mereka lakukan di belakang panggung dunia politik seyogyanya menjadi cerminan tentang siapa diri mereka sebenarnya. Menjelang hari pemilihan calon legislatif di bulan April nanti, upaya mencermati latar belakang, rekam jejak, dan perilaku para caleg bisa menjadi siasat publik untuk mencegah agar praktik korupsi di kalangan politisi ini tidak terulang kembali. Jangan sampai publik kembali terkecoh oleh tipu-daya penampilan “bersih” dan “suci” oleh para oknum politisi koruptor ini.

Medhy Aginta Hidayat
Dosen Program Studi Sosiologi, FISIB, Universitas Trunojoyo, Madura.

Image credit: Media Indonesia